Dalam podcast bersama pegiat lingkungan, Elan Jaelani menegaskan pentingnya penyelesaian masalah sampah dari sumbernya sebagai langkah strategis bagi kota.
Tasikmalaya, FPKS – Anggota Fraksi PKS DPRD Kota Tasikmalaya, Elan Jaelani, mengikuti kegiatan podcast bersama Ketua Bank Sampah Indonesia dan Noval, mahasiswa FISIP Universitas Siliwangi (Unsil). Kegiatan berlangsung di wilayah Cibeureum, Selasa, 5 April 2026, selama kurang lebih satu jam.
Podcast tersebut membahas berbagai topik, mulai dari gambaran tugas dan fungsi DPRD hingga persoalan strategis yang dihadapi Kota Tasikmalaya. Salah satu isu utama yang mengemuka adalah pengelolaan sampah yang hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Dalam diskusi, disampaikan bahwa Kota Tasikmalaya dengan jumlah penduduk sekitar 700 ribu jiwa menghasilkan sampah dalam jumlah besar setiap harinya. Kondisi ini menuntut adanya solusi yang tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga berkelanjutan.
Dorong Penyelesaian dari Sumber
Elan Jaelani menegaskan bahwa pendekatan dalam pengelolaan sampah harus diubah. Menurutnya, selama ini penanganan sampah cenderung berfokus pada hilir, yaitu Tempat Pembuangan Akhir (TPA), bukan pada sumbernya.
“Masalah sampah seharusnya mulai diselesaikan dari hulu. Dari rumah tangga, kantor, hingga tempat usaha. Bukan hanya di TPA,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa setiap individu memiliki peran penting dalam mengurangi volume sampah. Salah satunya melalui penerapan prinsip 3R, yaitu reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), dan recycle (mendaur ulang).
Dengan langkah tersebut, TPA tidak lagi menjadi tempat utama “penyelesaian” sampah, melainkan hanya sebagai titik akhir dari residu yang benar-benar tidak bisa diolah kembali.
Edukasi dan Kolaborasi Jadi Kunci
Lebih lanjut, Elan menekankan bahwa persoalan sampah tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah kota semata. Diperlukan kolaborasi lintas sektor, termasuk masyarakat, dunia usaha, dan para pegiat lingkungan.
Ia mengapresiasi berbagai program yang telah berjalan, seperti gerakan 3R dan pengembangan bank sampah. Namun, menurutnya, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada kesadaran masyarakat.
“Intinya kembali pada edukasi. Bagaimana menumbuhkan kesadaran bahwa sampah adalah tanggung jawab bersama,” katanya.
Elan berharap melalui diskusi seperti podcast ini, pemahaman masyarakat terhadap pengelolaan sampah dapat semakin meningkat. Ia juga mendorong agar forum-forum edukatif terus diperluas sebagai bagian dari solusi jangka panjang.
Dengan pendekatan berbasis kesadaran dan kolaborasi, diharapkan persoalan sampah di Kota Tasikmalaya dapat ditangani secara lebih efektif dan berkelanjutan. (im)






