Yadi Mulyadi Gandeng Komunitas Taruna Tani Mewangi Mandiri dan Rumah Eco-Enzym untuk Membantu Solusi Masalah Lingkungan 

by -1866 Views
Panen kompos di Rumah Eco-enzym, jalan Kapten Naseh Kota Tasikmalaya. (Foto: Ist)

Tasikmalaya, FPKS – Ketua Fraksi PKS DPRD Kota Tasikmalaya, H. Yadi Mulyadi, terus mendorong solusi penanganan masalah lingkungan yang tidak hanya berfokus pada pengurangan sampah, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. 

Hal ini terlihat dari dukungannya terhadap kegiatan pengelolaan limbah organik yang dipadukan dengan pengembangan agribisnis dan produksi produk ramah lingkungan.

Menurut Yadi, persoalan sampah tidak bisa diselesaikan secara parsial. Dibutuhkan pendekatan yang berkelanjutan dengan melibatkan aspek edukasi, sosial, dan ekonomi.

 “Kegiatan ini bukan sekadar solusi lingkungan, tetapi juga berpotensi mengangkat perekonomian keluarga. Keberlanjutan menjadi kunci, dan itu membutuhkan dukungan kegiatan ekonomi yang berjalan,” ujarnya.

Ia menambahkan, jika dikelola secara profesional, program seperti ini tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang dan memperluas jangkauan manfaat. 

“Artinya, semakin banyak masyarakat yang bisa terbantu, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi,” tambahnya.

Rumah Eco-Enzym: Edukasi dan Aksi Nyata Pengelolaan Limbah
Salah satu mitra yang didukung adalah Rumah Eco-Enzym yang digagas oleh Deviani. Selama tiga tahun terakhir, komunitas ini aktif mengelola limbah organik, khususnya sisa buah dari Pasar Cikurubuk, untuk diolah menjadi eco-enzyme.

Eco-enzyme sendiri merupakan cairan hasil fermentasi limbah organik seperti buah dan sayur, yang memiliki banyak manfaat, mulai dari pembersih alami, pupuk cair, hingga membantu memperbaiki kualitas lingkungan. 

Selain ramah lingkungan, produk ini juga mudah dibuat dan berpotensi memiliki nilai ekonomi.

Saat ini, Rumah Eco-Enzym mengelola sekitar 50–60 ton limbah per bulan di lokasi pengolahan di Jalan Kapten Naseh, meski kapasitas sebenarnya bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat. Proses pengangkutan limbah turut didukung oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Tasikmalaya.

Deviani menuturkan, pihaknya tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga edukasi. Berbagai pelatihan pengelolaan sampah dan pembuatan eco-enzyme rutin diberikan kepada masyarakat, mulai dari ibu rumah tangga hingga mahasiswa, secara gratis. 

“Kalau sampah organik dikelola sejak awal, beban di TPA bisa berkurang signifikan. Bahkan, sampah bisa memberi manfaat dan nilai ekonomi,” jelasnya.

Namun demikian, ia mengakui tantangan terbesar adalah keterbatasan pendanaan, karena selama ini sebagian besar kegiatan masih ditopang secara mandiri.

Sinergi dengan Petani: Membangun Ekosistem Berkelanjutan
Melihat potensi tersebut, Yadi mulai mendorong kolaborasi antara Rumah Eco-Enzym dan Kelompok Taruna Tani Mewangi Mandiri yang dipimpin oleh Marhaban Syaiful Hamid. 

Dalam skema ini, kompos yang dihasilkan akan dimanfaatkan sebagai media tanam bernilai ekonomis.

Marhaban, alumni IPB sekaligus pelaksana pelatihan, mengembangkan potensi agribisnis dari hasil pengolahan limbah tersebut, seperti bisnis kompos, media tanam, dan bibit tanaman. 

Sementara itu, Rumah Eco-Enzym mengembangkan produk turunan berupa personal care organik seperti sabun dan sampo, meski masih dalam skala rumah tangga.

Kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem yang saling mendukung: lingkungan terjaga, masyarakat teredukasi, dan ekonomi lokal tumbuh. 

Deviani pun optimistis, sinergi ini akan memperkuat misi sosial sekaligus membuka peluang keberlanjutan program ke depan. (im)

banner 700x160

About Author: Tim Media

Avatar photo
Mengelola publikasi dan informasi kegiatan fraksi secara transparan, akurat, dan bertanggung jawab kepada masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.