Dalam Rapat Pansus LKPJ, Ishak Parid Soroti Ketenagakerjaan dan Branding Pariwisata Kota Tasikmalaya

by -1309 Views
Anggota Pansus LKPJ 2025 dari fraksi PKS, Ishak Parid.

Tasikmalaya, FPKS — Panitia Khusus (Pansus) LKPJ 2025 DPRD Kota Tasikmalaya menggelar rapat kerja bersama Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) dan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudpar), Kamis (16/4/2026). 

Dalam rapat tersebut, berbagai isu strategis dibahas, mulai dari ketenagakerjaan hingga penguatan sektor pariwisata daerah.

Anggota Pansus dari Fraksi PKS, Ishak Parid, SPdI, menaruh perhatian besar pada persoalan ketenagakerjaan. Ia mendalami data terbaru terkait angka pengangguran serta efektivitas penyerapan tenaga kerja di Kota Tasikmalaya.

Salah satu yang disoroti adalah potensi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai program pusat dengan anggaran besar yang dapat berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja lokal. Dengan jumlah sekitar 115 dapur SPPG dan rata-rata menyerap 45 tenaga kerja per unit, program ini diperkirakan mampu menyerap lebih dari lima ribu tenaga kerja.

“Program ini memiliki potensi besar untuk mengurangi pengangguran, tentu harus dipastikan tenaga kerja lokal bisa terserap secara optimal,” ujar Ishak.

Ia pun mendorong Disnaker untuk tidak hanya berfokus pada capaian administratif, tetapi juga melakukan inovasi dalam peningkatan kualitas tenaga kerja. 

Menurutnya, pelatihan keterampilan (skill) dan peningkatan kapasitas (upskilling) menjadi sangat penting agar tenaga kerja lokal mampu memenuhi kebutuhan pasar kerja.

“Jangan sampai lapangan kerja tersedia, tetapi tenaga kerja kita belum siap karena keterbatasan keterampilan,” tegasnya. 

Selain itu, aspek perlindungan tenaga kerja juga menjadi bagian penting yang dibahas dalam forum tersebut.

Perkuat Promosi dan Branding Pariwisata
Dalam pembahasan bersama Disbudpar, Ishak menilai sektor ini memiliki peran strategis karena mencakup empat bidang penting, yakni kepemudaan, olahraga, budaya, dan pariwisata. Namun demikian, ia menyoroti masih lemahnya aspek sosialisasi program yang telah dilaksanakan.

“Programnya banyak, tetapi belum cukup terasa gaungnya di masyarakat karena kurangnya sosialisasi,” ungkapnya.

Ishak juga menyoroti persoalan branding Kota Tasikmalaya yang dinilai belum optimal. Selama ini, citra sebagai kota bordir dan kelom geulis masih melekat kuat, meskipun kondisi industrinya telah mengalami penurunan. Di sisi lain, upaya membangun citra sebagai kota wisata dinilai belum sepenuhnya berhasil.

Untuk itu, ia mendorong pemerintah daerah agar lebih serius dalam mengembangkan strategi promosi dan branding. Salah satunya melalui optimalisasi digital marketing secara lebih masif dan terintegrasi.

Kolaborasi Pentahelix untuk Pengembangan Daerah
Selain promosi digital, Ishak juga menyarankan penyelenggaraan event pariwisata berskala nasional guna menarik perhatian publik yang lebih luas. Ia menekankan pentingnya membangun identitas atau ikon khas Kota Tasikmalaya sebagai bagian dari strategi branding.

Lebih jauh, ia mendorong kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan pentahelix. Pentahelix merupakan model kerja sama yang melibatkan lima unsur utama, yaitu pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media, dalam mendukung pembangunan daerah.

“Dengan kolaborasi yang kuat, potensi daerah bisa dikembangkan lebih maksimal dan berkelanjutan,” pungkasnya. (im)

banner 700x160

About Author: Tim Media

Avatar photo
Mengelola publikasi dan informasi kegiatan fraksi secara transparan, akurat, dan bertanggung jawab kepada masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.