TASIKMALAYA, FPKS — DPRD Kota Tasikmalaya menerima kunjungan kerja Komisi D DPRD Kabupaten Gunungkidul, Rabu (22/4) pukul 13.00 WIB di Ruang Rapat Badan Anggaran.
Pertemuan ini menjadi ajang bertukar pengalaman sekaligus menggali potensi penguatan sektor pelayanan publik antar daerah.
Kunjungan tersebut disambut oleh jajaran DPRD Kota Tasikmalaya, termasuk Anggota Komisi IV sekaligus Ketua Fraksi PKS, H. Yadi Mulyadi, SH.
Dalam diskusi, kedua belah pihak membahas berbagai aspek, mulai dari kondisi demografi, struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), hingga tantangan pelayanan kesehatan di masing-masing wilayah.
Perbedaan Wilayah, Tantangan Pelayanan
Yadi Mulyadi menyampaikan secara umum terdapat kemiripan antara Kabupaten Gunungkidul dan Kota Tasikmalaya, baik dari sisi demografi maupun anatomi APBD, meskipun secara nominal APBD Gunungkidul sedikit lebih rendah.
Namun demikian, terdapat perbedaan signifikan pada luas wilayah. Kabupaten Gunungkidul memiliki wilayah hampir sepuluh kali lebih luas dibandingkan Kota Tasikmalaya, bahkan memiliki garis pantai sepanjang kurang lebih 70 kilometer, termasuk kawasan wisata Parangtritis.
“Luas wilayah ini menjadi peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, potensi pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pariwisata cukup besar, namun di sisi lain pelayanan publik, termasuk kesehatan, menjadi lebih kompleks karena faktor jarak dan akses,” ujar Yadi.
Ia menambahkan, kondisi geografis tersebut juga berdampak pada tugas anggota DPRD dalam menyerap aspirasi masyarakat. Dalam satu daerah pemilihan, jarak antar wilayah bisa mencapai lebih dari 10 kilometer, sehingga membutuhkan upaya ekstra dalam menjangkau konstituen.
Peluang dari Sektor Peternakan
Diskusi juga menyoroti potensi ekonomi lokal, khususnya di bidang peternakan. Yadi mengungkapkan bahwa Gunungkidul dikenal sebagai salah satu sentra pemasok ternak sapi dan kambing, dengan kultur masyarakat yang cukup kuat dalam beternak.
“Di sana, satu rumah bisa memiliki lima kambing dan satu hingga dua ekor sapi. Ini menunjukkan ketekunan dan budaya beternak yang sudah mengakar,” jelasnya.
Menurut Yadi, kondisi tersebut dapat menjadi pelajaran berharga bagi Kota Tasikmalaya dalam mengembangkan sektor serupa. Ia menilai, meskipun berstatus kota, Tasikmalaya masih memiliki potensi besar di bidang peternakan dan pertanian.
Tasikmalaya Punya Potensi Serupa
Yadi menjelaskan bahwa dari sepuluh kecamatan yang ada di Kota Tasikmalaya, setidaknya tujuh kecamatan masih memiliki karakteristik wilayah pedesaan. Hal ini membuka peluang untuk pengembangan sektor peternakan dan pertanian secara lebih optimal.
“Wilayah seperti Bungursari dan Tamansari masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Ini bisa menjadi kekuatan ekonomi lokal jika dikelola dengan baik,” katanya.
Ia berharap, melalui kunjungan kerja ini, kedua daerah dapat saling belajar dan memperkuat kebijakan, khususnya dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan serta mendorong pengembangan potensi ekonomi berbasis lokal.
“Kegiatan seperti ini penting untuk memperluas perspektif dan menemukan solusi atas tantangan yang dihadapi masing-masing daerah,” pungkas Yadi.
Kunjungan kerja ini diharapkan dapat mempererat sinergi antar DPRD serta menjadi langkah konkret dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik dan pengembangan potensi daerah secara berkelanjutan. (im)








