Halal Bihalal: Jalan Sunyi yang Mempersatukan

by -1369 Views
Acara silaturahmi dan halal bihalal ulama dan umara Kota Tasikmalaya, Kamis (30/4).

Oleh: H. Heri Ahmadi, SPdI – Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya

Ketika politik terasa rumit dan penuh jarak, silaturahmi dan halal bihalal menghadirkan jalan sederhana: mempertemukan hati. Dari masa Soekarno hingga Tasikmalaya hari ini, pendekatan ini tetap relevan.

Kalau kita melihat ke belakang, masa awal kemerdekaan itu bukan masa yang ringan. Banyak persoalan. Dari dalam negeri ada perbedaan pandangan, dari luar ada tekanan penjajahan yang belum benar-benar selesai. Serba tidak mudah.

Dalam kondisi seperti itu, ternyata tidak semua bisa diselesaikan dengan rapat resmi. Tidak semua bisa selesai dengan forum yang kaku. Presiden Soekarno memahami itu. Beliau membuka ruang-ruang pertemuan yang lebih hangat, lebih cair.

Di situlah silaturahmi menemukan maknanya. Bukan sekadar bertemu, tapi mempertemukan hati.

Ada kisah yang sering kita dengar, tentang peran ulama besar NU, Abdul Wahab Hasbullah, yang memperkenalkan istilah halal bihalal. Terlepas dari perbedaan catatan sejarahnya, yang penting adalah nilai yang kita ambil: duduk bersama, saling memaafkan, dan membuka kembali pintu komunikasi.

Bukan Sekadar Tradisi

Halal bihalal itu jangan kita lihat hanya sebagai rutinitas setelah Idulfitri. Lebih dari itu, ini adalah ruang untuk jujur. Ruang untuk terbuka. Ruang untuk kembali menjadi manusia yang saling memahami.

Kalau sudah duduk bersama, sekat-sekat itu biasanya mulai turun. Ego perlahan diletakkan. Kita jadi lebih mudah mendengar, bukan sekadar berbicara.

Dalam kehidupan politik, ini penting sekali. Karena seringkali masalah itu bukan hanya soal kebijakan, tapi soal rasa. Soal kepercayaan. Soal komunikasi yang tersumbat.

Maka ketika jalur formal terasa buntu, justru pendekatan seperti inilah yang bisa membuka jalan. Pelan, tapi dalam.

Belajar dari Tasikmalaya

Apa yang dilakukan Pemerintah Kota Tasikmalaya pada Kamis (30/4), mempertemukan umara dan ulama, ini patut kita syukuri. Ini kita harapkan, bukan sekadar acara seremonial.

Ini adalah ikhtiar. Ikhtiar untuk merawat kebersamaan.

Ditengah tantangan pembangunan yang tidak ringan, kita memang butuh lebih banyak ruang seperti ini. Ruang yang tidak hanya berbicara soal program, tapi juga membangun rasa saling percaya.

Karena tidak semua persoalan selesai di meja rapat. Ada yang justru selesai ketika kita saling mendekat, saling memahami.

Menjaga yang Esensial

Akhirnya, kita perlu menyadari bahwa halal bihalal ini bukan hanya tradisi, tapi nilai. Ia mengajarkan kita bahwa dibalik perbedaan, selalu ada titik temu.

Bahwa dibalik ketegangan, selalu ada peluang untuk saling memahami.

Dan mungkin, disitulah kekuatan kita sebagai bangsa. Bukan hanya pada sistem dan struktur, tapi pada kemampuan menjaga hati.

Karena sering kali, persoalan yang besar itu tidak selesai dengan cara yang besar. Tapi justru dengan cara yang sederhana.

Duduk bersama. Mendengar. Dan berbicara dari hati ke hati. (im)

banner 700x160

About Author: Tim Media

Avatar photo
Mengelola publikasi dan informasi kegiatan fraksi secara transparan, akurat, dan bertanggung jawab kepada masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.