Dalam Audiensi dengan Social Nusantara Institute, Yadi Mulyadi Ajak Mahasiswa Memahami Demokrasi Secara Teoritis dan Praktis

by -1459 Views
Audiensi Yadi Mulyadi, anggota Komisi IV bersama Founder Social Nusantara Institute, Selasa (2/6).

Menurut Yadi, peningkatan literasi demokrasi dan parlemen penting agar mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga realitas praktik pemerintahan di lapangan.

TASIKMALAYA, FPKS— DPRD Kota Tasikmalaya menerima audiensi dari Founder Social Nusantara Institute dalam agenda Komisi IV yang berlangsung di Ruang Rapat 1 DPRD Kota Tasikmalaya, pukul 08.30 WIB. Audiensi tersebut membahas upaya meningkatkan wawasan mahasiswa mengenai demokrasi, parlemen, dan birokrasi.

Dalam pemaparannya, pihak Social Nusantara Institute menyampaikan bahwa mahasiswa membutuhkan ruang pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada teori di ruang kelas, tetapi juga memberikan pengalaman langsung mengenai proses pengambilan kebijakan publik, fungsi parlemen, serta tata kelola pemerintahan daerah.

Menurut mereka, penguatan literasi demokrasi menjadi penting agar generasi muda memiliki pemahaman yang lebih utuh tentang sistem pemerintahan dan mampu berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan demokrasi.

Literasi Harus Selaras dengan Realitas

Menanggapi usulan tersebut, Anggota Komisi IV DPRD Kota Tasikmalaya dari Fraksi PKS, Yadi Mulyadi, SH, menyampaikan apresiasi atas inisiatif yang dilakukan oleh kalangan mahasiswa dan pegiat pendidikan.

Menurut Yadi, peningkatan literasi demokrasi tidak cukup hanya melalui kajian akademik atau membaca literatur. Mahasiswa juga perlu terlibat dalam diskusi, dialog, dan proses pembelajaran yang mempertemukan teori dengan realitas yang terjadi di masyarakat.

“Mahasiswa perlu memahami bagaimana relasi antara DPRD dan pemerintah daerah berjalan dalam praktik. Dengan begitu, pemahaman yang diperoleh tidak hanya bersifat tekstual, tetapi juga kontekstual,” ujarnya.

Yadi menjelaskan bahwa pemerintah daerah secara legal terdiri dari kepala daerah dan DPRD yang memiliki fungsi serta kewenangan masing-masing. Karena itu, pemahaman terhadap sistem pemerintahan akan lebih utuh apabila mahasiswa dapat melihat langsung proses yang terjadi di lapangan.

Ia juga mendorong agar kegiatan diskusi dan brainstorming diperbanyak sehingga mampu melahirkan gagasan-gagasan yang lebih produktif dan solutif bagi pembangunan daerah.

Kolaborasi untuk Menyelesaikan Masalah Kota

Dalam kesempatan tersebut, Yadi memberikan contoh pentingnya menghubungkan kajian akademik dengan kondisi nyata masyarakat. Menurutnya, berbagai persoalan kota dapat dianalisis secara teoritis, namun penyelesaiannya memerlukan pemahaman terhadap faktor-faktor yang terjadi di lapangan.

“Misalnya persoalan kenakalan remaja atau gang motor. Secara teori bisa dikaji dari banyak perspektif. Namun ketika dilihat lebih dekat, sering kali ada faktor keluarga dan lingkungan yang menjadi penyebab utama. Karena itu, solusi yang dihasilkan harus mempertimbangkan kedua aspek tersebut,” jelasnya.

Yadi menegaskan bahwa berbagai persoalan perkotaan tidak dapat diselesaikan secara parsial oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi yang melibatkan pemerintah, dunia pendidikan, organisasi masyarakat, serta generasi muda.

Ia bahkan mendorong agar program-program edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat dapat melibatkan sekolah dan perguruan tinggi. Menurutnya, kampus memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran publik sekaligus menghasilkan solusi berbasis kajian ilmiah.“Kami sangat terbuka terhadap kolaborasi. Semakin banyak pihak yang terlibat, semakin besar peluang kita menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan di Kota Tasikmalaya,” pungkas Yadi. (im)

banner 700x160

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.