Oleh: Elan Jaelani, SH
Anggota Komisi III DPRD Kota Tasikmalaya, Fraksi PKS
Tasikmalaya, FPKS – Hari Selasa (23/6), saya merasakan suasana penuh semangat yang tampak dalam kegiatan kenaikan kelas dan perpisahan siswa SD Negeri Bantargebang, Kelurahan Kersanagara, Kecamatan Cibeureum.
Acara yang dirangkaikan dengan pentas seni dan kreativitas siswa tersebut dihadiri oleh Pengawas Dinas Pendidikan, Lurah Kersanagara, perwakilan UPTD PGRI, para guru, orang tua, serta berbagai unsur masyarakat.
Di balik penampilan seni yang memukau, tersimpan makna yang jauh lebih besar. Setiap anak yang naik kelas adalah simbol harapan. Mereka sedang menapaki tangga pendidikan yang kelak akan menentukan kualitas sumber daya manusia Kota Tasikmalaya.
Dalam kesempatan tersebut saya menyampaikan bahwa pendidikan harus dipandang sebagai investasi jangka panjang. Berdasarkan data yang tersedia, Rata-rata Lama Sekolah (RLS) masyarakat Kota Tasikmalaya saat ini berada pada angka 9,6 tahun, sedangkan Harapan Lama Sekolah (HLS) mencapai 13,5 tahun. Artinya, masih terdapat kesenjangan yang harus kita perjuangkan bersama agar semakin banyak anak mampu menyelesaikan pendidikan hingga jenjang menengah atas, bahkan perguruan tinggi.
Menutup Kesenjangan Pendidikan
Selisih antara RLS dan HLS bukan sekadar angka statistik. Di baliknya terdapat tantangan nyata yang dihadapi keluarga, sekolah, dan pemerintah. Masih ada anak yang berhenti sekolah karena alasan ekonomi, kurangnya motivasi, atau persoalan lingkungan. Kondisi ini harus menjadi perhatian bersama.
Di sisi lain, Kota Tasikmalaya memiliki modal yang cukup baik. Saat ini terdapat 235 Sekolah Dasar, baik negeri maupun swasta, yang tersebar di berbagai wilayah. Keberadaan sekolah-sekolah tersebut merupakan fondasi penting dalam membangun generasi masa depan.
Namun, jumlah sekolah saja belum cukup. Yang jauh lebih penting adalah memastikan setiap sekolah mampu memberikan layanan pendidikan yang berkualitas. Guru harus terus didukung untuk meningkatkan kompetensinya. Sarana belajar harus terus diperbaiki. Anak-anak juga perlu mendapatkan ruang untuk mengembangkan karakter, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan kecakapan menghadapi perkembangan zaman.
Pendidikan tidak boleh berhenti pada pencapaian nilai akademik semata. Pendidikan harus mampu melahirkan manusia yang berakhlak, berintegritas, serta memiliki daya saing.
Kolaborasi Menjadi Kunci
Keberhasilan pendidikan tidak mungkin dibebankan hanya kepada sekolah atau pemerintah. Orang tua merupakan pendidik pertama bagi anak. Lingkungan masyarakat pun memiliki peran besar dalam membentuk karakter mereka.
Karena itu, kolaborasi harus menjadi semangat bersama. Pemerintah perlu memastikan kebijakan pendidikan tetap menjadi prioritas pembangunan daerah. Sekolah harus terus berinovasi dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Orang tua perlu hadir mendampingi proses belajar anak, sementara masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya budaya belajar.
Sebagai anggota Komisi III DPRD Kota Tasikmalaya dari Fraksi PKS, saya memandang bahwa investasi terbaik sebuah daerah bukan hanya pembangunan fisik, melainkan pembangunan manusianya. Jalan yang baik memang penting, tetapi manusia yang berkualitas akan menentukan ke mana jalan itu membawa kemajuan.
Saya berharap tidak ada lagi anak-anak Kota Tasikmalaya yang terpaksa menghentikan pendidikannya sebelum waktunya. Setiap anak harus memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan meraih cita-citanya.
Anak-anak yang hari ini tampil percaya diri di atas panggung SD Negeri Bantargebang adalah calon pemimpin, pengusaha, guru, tenaga kesehatan, dan pemimpin daerah di masa depan. Tugas kita adalah memastikan mereka memperoleh pendidikan yang berkualitas sehingga mampu membawa Kota Tasikmalaya menjadi kota yang maju, berdaya saing, dan tetap berlandaskan nilai-nilai akhlak mulia. (im)







