Siapkan Model Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Lingkungan, Elan Jaelani Pelajari Pengelolaan Bank Sampah Al-Iman

by -1383 Views
Elan Jaelani bersama pengelola bank sampah al-Iman pimpinan Dani, Sukaraja Ciamis. Selasa, 21/7.

KABUPATEN CIAMIS, FPKS — Anggota Komisi III DPRD Kota Tasikmalaya dari Fraksi PKS, Elan Jaelani, S.H., melakukan studi banding ke Bank Sampah Al-Iman di Desa Sukaraja, Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis, Selasa (21/7/2026). 

Kunjungan tersebut dilakukan untuk mempelajari sistem pengelolaan sampah yang tidak hanya mampu mengurangi timbunan sampah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Bank Sampah Al-Iman dikelola secara swadaya oleh lima orang dengan Dani sebagai ketuanya. Selama lima tahun terakhir, kelompok tersebut berhasil mengembangkan model pengelolaan sampah terpadu yang mengkombinasikan aspek lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Sampah Dikelola Menjadi Sumber Penghasilan

Dalam kegiatan tersebut, Elan melihat secara langsung proses pengelolaan sampah yang dilakukan oleh Bank Sampah Al-Iman. Sampah anorganik dipilah dan dijual kepada pengepul, sedangkan sampah organik diolah menggunakan budidaya maggot. Hasil budidaya tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ternak ayam yang juga dikelola oleh kelompok.

Seluruh kegiatan dikembangkan dengan permodalan mandiri, sehingga operasional bank sampah dapat berjalan secara berkelanjutan tanpa bergantung sepenuhnya pada bantuan dari luar.

Menurut Elan, model seperti ini menarik karena mampu menghadirkan dua manfaat sekaligus, yakni mengurangi persoalan sampah di lingkungan sekaligus membuka peluang peningkatan ekonomi masyarakat.

“Hal yang menarik bukan hanya bagaimana mereka mengelola sampah, tetapi bagaimana sampah itu menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat. Lingkungan menjadi lebih bersih, sementara masyarakat memperoleh nilai tambah dari kegiatan tersebut,” ujarnya.

Menyiapkan Model untuk Bantargedang

Elan menjelaskan bahwa tujuan utama studi banding ini adalah mencari metode yang dapat diadaptasi di wilayah Bantargedang, Kelurahan Kersanagara, yang menjadi salah satu kawasan tempat yang menjadi fokus kegiatan pemberdayaan masyarakat.

Menurutnya, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan hanya dengan pengangkutan ke tempat pembuangan akhir. Dibutuhkan perubahan pola pengelolaan di tingkat masyarakat agar sampah dapat menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.

Meski demikian, ia menilai satu model saja belum tentu dapat diterapkan secara utuh di setiap daerah. Karena itu, diperlukan proses belajar yang lebih luas dengan mempelajari berbagai praktik baik dari komunitas lain.

“Kita harus terus belajar. Tidak cukup hanya melihat satu metode, karena setiap wilayah memiliki karakteristik yang berbeda. Yang terpenting adalah menemukan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat setempat,” kata Elan.

Kolaborasi Menuju Pemberdayaan Berkelanjutan

Sebelumnya, Elan juga telah menjalin kolaborasi dengan pegiat lingkungan Deviani dari Rumah Eco-Enzym untuk membangun proyek percontohan pengelolaan sampah organik di wilayah Bantargedang. Menurutnya, kolaborasi tersebut akan diperkaya dengan berbagai pengalaman yang diperoleh dari hasil studi banding ke Bank Sampah Al-Iman.

Ia berharap masyarakat nantinya tidak hanya mampu mengelola sampah secara mandiri, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi melalui berbagai aktivitas produktif yang lahir dari pengelolaan lingkungan.

“Kita akan pelajari berbagai model yang sudah berhasil, kemudian masyarakat bisa mengadaptasinya sesuai kondisi lingkungannya masing-masing. Harapan kami, mereka benar-benar menjadi masyarakat yang berdaya, bukan sekadar mampu menyelesaikan persoalan sampah. Jika model ini berhasil, tentu akan kita dorong untuk direplikasi ke wilayah lain sehingga manfaatnya bisa dirasakan lebih luas,” pungkas Elan. (im)

banner 700x160

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.