Tidak Bisa Sendirian: Saatnya Menguatkan Ekosistem Dukungan bagi Penyintas Kanker di Tasikmalaya

by -1393 Views
Anggota Komisi IV DPRD Kota Tasikmalaya, Yadi Mulyadi, SH. (Foto; Deni Rohadi)

Oleh: Yadi Mulyadi, SH
Anggota Komisi IV DPRD Kota Tasikmalaya dari Fraksi PKS

Kanker bukan hanya persoalan medis. Ia adalah persoalan kemanusiaan yang menyentuh banyak aspek kehidupan: kesehatan, ekonomi keluarga, pendidikan, pekerjaan, psikologis, bahkan kehidupan sosial seorang penyintas.

Karena itu, ketika kita berbicara tentang penanganan kanker di Kota Tasikmalaya, saya kira kita tidak cukup hanya membicarakan rumah sakit, dokter, obat, kemoterapi, atau fasilitas kesehatan. Kita perlu melihatnya sebagai sebuah ekosistem pelayanan yang melibatkan pemerintah, tenaga kesehatan, rumah sakit, organisasi masyarakat, komunitas, keluarga, dan masyarakat secara keseluruhan.

Pertemuan DPRD Kota Tasikmalaya dengan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Kota Tasikmalaya beberapa waktu lalu semakin menguatkan pandangan tersebut. Kehadiran organisasi masyarakat yang secara sukarela mendampingi para penyintas kanker menunjukkan bahwa masyarakat sesungguhnya memiliki energi besar untuk ikut menyelesaikan persoalan kesehatan di lingkungannya.

Masyarakat Bukan Sekadar Penerima Layanan

Salah satu hal yang patut diapresiasi adalah peran Yayasan Pita Pink Tasikmalaya yang dipimpin Tanti Damayanti. Gerakan masyarakat seperti ini memperlihatkan bahwa penanganan kanker tidak harus seluruhnya dibebankan kepada pemerintah.

Komunitas penyintas dan organisasi sosial dapat hadir mendampingi pasien bukan hanya dalam aspek pengobatan, tetapi juga dalam masa pemulihan, pendampingan setelah kemoterapi, edukasi, berbagi pengalaman, dan membangun jejaring dukungan.

Bagi seorang penyintas, dukungan seperti ini sangat berarti. Ada masa ketika seseorang membutuhkan informasi medis, tetapi ada pula masa ketika yang dibutuhkan adalah teman berbicara, dukungan keluarga, motivasi, atau sekadar keyakinan bahwa dirinya tidak menjalani perjuangan itu seorang diri.

Dalam konteks inilah partisipasi masyarakat perlu didorong. Pemerintah tidak harus mengambil alih seluruh peran masyarakat. Sebaliknya, pemerintah dapat membangun ekosistem yang memungkinkan inisiatif masyarakat berkembang dan terhubung dengan sistem pelayanan kesehatan.

Data yang pernah disampaikan YKI Kota Tasikmalaya menunjukkan tingginya proporsi kanker payudara di antara penyintas yang mereka dampingi. Dalam sebuah pemberitaan lokal, YKI menyebut 91 dari 107 penyintas yang tercatat saat itu merupakan penderita kanker payudara, atau sekitar 85 persen. Angka tersebut menunjukkan betapa pentingnya perhatian terhadap kanker payudara, meskipun data tersebut tentu perlu terus diperbarui dan diselaraskan dengan data resmi pemerintah daerah. 

Secara nasional dan global, persoalan ini juga bukan perkara kecil. WHO menyebut kanker payudara sebagai kanker yang paling banyak ditemukan pada perempuan di banyak negara dan menekankan pentingnya deteksi dini, diagnosis tepat waktu, pengobatan yang komprehensif, rehabilitasi, serta perawatan paliatif sesuai kebutuhan.

DPRD Perlu Mendorong Sinergi yang Lebih Terstruktur

Disinilah menurut saya DPRD memiliki peran penting. Fungsi DPRD tidak hanya berbicara mengenai anggaran, tetapi juga bagaimana kebijakan dan regulasi daerah dapat menciptakan ruang bagi sinergi berbagai pihak.

Pemkot melalui Dinas Kesehatan memiliki peran dalam kebijakan dan pelayanan kesehatan. Rumah sakit memiliki peran dalam diagnosis dan pengobatan. YKI memiliki kapasitas dalam edukasi, pendampingan dan advokasi. Sementara komunitas seperti Yayasan Pita Pink memiliki pengalaman langsung mendampingi para penyintas dan memahami persoalan yang mereka hadapi sehari-hari.

Semua kekuatan tersebut harus dipertemukan.

Karena itu, saya melihat pentingnya sebuah pola kolaborasi yang lebih terstruktur. Pemerintah daerah perlu memiliki data yang akurat dan mutakhir mengenai kondisi kanker di Kota Tasikmalaya. Dari data tersebut kemudian dapat disusun prioritas program, kebutuhan fasilitas, pola rujukan, edukasi masyarakat, hingga bentuk dukungan bagi penyintas dan keluarganya.

DPRD dapat mendorongnya melalui pembahasan anggaran maupun kebijakan sesuai kewenangan. Bukan dengan mengambil alih peran pemerintah atau komunitas, melainkan memastikan setiap pihak memiliki ruang untuk berkontribusi dan bekerja dalam arah yang sama.

Saya juga menyambut baik aspirasi mengenai kebutuhan rumah singgah bagi penyintas yang harus menjalani pengobatan. Bagi masyarakat yang tinggal jauh dari fasilitas pelayanan, perjalanan berulang untuk menjalani pengobatan tentu dapat menjadi beban tersendiri. Persoalan akses seperti ini perlu dilihat sebagai bagian dari kualitas pelayanan kesehatan.

Begitu pula dengan aspirasi penguatan layanan kanker di RSUD Kota Tasikmalaya. Pengembangan fasilitas harus tentu didasarkan pada kajian kebutuhan, kesiapan tenaga kesehatan, sarana-prasarana, pembiayaan, serta ketentuan pelayanan kesehatan yang berlaku. Gagasan untuk memperkuat kapasitas pelayanan kanker di daerah layak menjadi bagian dari pembahasan bersama.

Pengobatan Penting, tetapi Harapan Juga Harus Dijaga

Ada satu hal yang menurut saya tidak boleh dilupakan: pasien kanker bukan hanya tubuh yang sedang diobati, tetapi manusia yang sedang berjuang.

Penanganan kanker tidak boleh berhenti pada aspek medis. Penyintas juga membutuhkan penguatan mental, dukungan keluarga, komunitas yang positif, edukasi, dan motivasi agar tetap memiliki harapan serta mampu menjalani kehidupan secara produktif sesuai kondisi masing-masing.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, kita perlu memperhatikan aspek maknawiyah—kekuatan batin dan keteguhan jiwa—tentu tanpa menggantikan peran pengobatan medis.

Semangatnya bukan mengatakan bahwa seseorang cukup dengan motivasi tanpa pengobatan. Justru sebaliknya, pengobatan medis harus berjalan bersama dukungan psikososial, spiritual, keluarga, dan komunitas.

WHO sendiri menekankan bahwa pengendalian kanker membutuhkan rangkaian intervensi yang saling melengkapi, mulai dari edukasi dan deteksi dini hingga diagnosis, pengobatan, rehabilitasi, dan perawatan yang sesuai kebutuhan.

Saya berharap Kota Tasikmalaya dapat membangun model penanganan kanker yang semakin kolaboratif.

Pemerintah hadir dengan kebijakan dan pelayanan. Rumah sakit hadir dengan keahlian medis. DPRD hadir melalui fungsi anggaran, regulasi, dan pengawasan. YKI dan komunitas hadir dengan edukasi, pendampingan, serta pengalaman lapangan. Masyarakat dan keluarga hadir memberikan dukungan.

Jika seluruh kekuatan ini berjalan bersama, maka kita tidak hanya berbicara tentang bagaimana mengobati kanker, tetapi juga bagaimana mendampingi manusia yang sedang menghadapi kanker agar tetap memiliki harapan, martabat, dan kesempatan untuk menjalani kehidupan sebaik mungkin.

Itulah semangat pelayanan kesehatan yang menurut saya perlu terus kita bangun di Kota Tasikmalaya: tidak ada penyintas yang merasa berjuang sendirian. (im)

banner 700x160

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.