Ketika Pelajar Mulai Peduli pada Persoalan Pendidikan Kota

by -1361 Views
Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, Heri Ahmadi, menerima IPM Muhammadiyah di ruang kerjanya. (Foto: Nurdin Koswara)

Oleh: H. Heri Ahmadi, S.Pd.I.
Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya

Ada sesuatu yang menggembirakan ketika anak-anak muda datang dan berbicara tentang persoalan pendidikan. Mereka tidak hanya membicarakan sekolah, pelajaran, atau kegiatan organisasi, tetapi mulai melihat persoalan yang lebih luas: masih adanya anak yang tidak sekolah, persoalan ekonomi keluarga, hingga kaitannya dengan kualitas pembangunan manusia di Kota Tasikmalaya.

Bagi saya, kepedulian semacam ini patut diapresiasi.

Ketika Pengurus Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Kota Tasikmalaya datang ke DPRD dan menyampaikan perhatian mereka terhadap persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS), saya melihat ada energi positif dari generasi muda. Mereka sedang belajar menjadi bagian dari masyarakat yang peduli, bukan sekadar menjadi penonton terhadap berbagai persoalan yang ada di sekitarnya.

Kepedulian Adalah Awal dari Perubahan

Kita sering berharap generasi muda menjadi generasi penerus. Tetapi menjadi penerus bukan hanya soal usia. Ia juga berarti memiliki kepedulian, keberanian menyampaikan gagasan, dan kemauan untuk ikut mencari jalan keluar.

Ketika para pelajar mulai bertanya mengapa masih ada anak yang tidak sekolah, berapa jumlahnya, apa penyebabnya, dan bagaimana persoalan itu dapat diatasi, sesungguhnya mereka sedang belajar memahami tanggung jawab sosial.

Kita patut memberikan ruang bagi proses tersebut.

Kepedulian perlu terus ditumbuhkembangkan. Jangan sampai berhenti pada keprihatinan, apalagi hanya menjadi perbincangan. Dari kepedulian harus lahir data yang lebih baik, pemahaman yang lebih utuh, dialog yang sehat, dan pada akhirnya solusi.

Dalam persoalan Anak Tidak Sekolah, misalnya, kita menemukan adanya perbedaan angka dari berbagai sumber. Ini menunjukkan bahwa persoalan data juga perlu menjadi perhatian. Data dari lapangan perlu disandingkan dengan data pemerintah sehingga kita memperoleh gambaran yang lebih lengkap.

Kita perlu mengetahui bukan hanya berapa jumlah anak yang tidak sekolah, tetapi juga mengapa mereka tidak sekolah. Apakah karena persoalan ekonomi, lingkungan keluarga, akses pendidikan, motivasi, pergaulan, atau sebab lainnya. Setiap penyebab membutuhkan pendekatan yang mungkin berbeda.

Anak Muda Harus Menjadi Bagian dari Solusi

Saya berharap kepedulian para pelajar ini tidak berhenti pada kegiatan pendataan. Saya justru berharap mereka berani melangkah lebih jauh: berdiskusi dengan pemerintah, sekolah, DPRD, orang tua, tokoh masyarakat, dan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap pendidikan.

DPRD tentu terbuka terhadap ruang dialog seperti itu.

Pemerintah memiliki kewenangan dan data. DPRD memiliki fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan. Sekolah memahami persoalan pendidikan dari sisi pelaksanaan. Masyarakat memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang kondisi di lingkungannya. Sementara anak muda memiliki energi, kreativitas, dan keberanian untuk melihat persoalan dari sudut pandang generasinya.

Jika semua kekuatan ini dipertemukan, saya yakin akan muncul banyak gagasan yang bisa dikerjakan bersama.

Program pemerintah seperti Sekolah Rakyat juga perlu dilihat sebagai salah satu ikhtiar dalam menjawab persoalan pendidikan dan kemiskinan. Tetapi tentu tidak mungkin satu program menyelesaikan seluruh persoalan. Kita membutuhkan banyak pendekatan dan kolaborasi.

Menjaga Harapan Generasi Muda

Saya ingin menyampaikan apresiasi kepada anak-anak muda yang mau datang, berdiskusi, bertanya, dan menyampaikan kepedulian mereka. Jangan kehilangan keberanian untuk peduli.

Boleh jadi gagasan kita hari ini belum sempurna. Data yang kita miliki mungkin masih perlu diperbaiki. Solusi yang kita tawarkan mungkin belum langsung menemukan bentuk terbaiknya. Itu semua adalah bagian dari proses belajar.

Hal terpenting, kepedulian tersebut jangan padam.

Kota yang baik bukan hanya dibangun oleh pemerintah, tetapi oleh masyarakat yang peduli. Masyarakat yang peduli harus terus melahirkan generasi yang juga peduli.

Pelajar Kota Tasikmalaya tidak hanya menjadi generasi yang menikmati pembangunan, tetapi juga generasi yang ikut memikirkan masa depan kotanya.

Dari kepedulian akan lahir pertanyaan. Dari pertanyaan lahir dialog. Dari dialog kita menemukan solusi. Dan dari solusi itulah perubahan dapat dimulai. (im)

banner 700x160

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.