Generasi Muda: Subjek, Bukan Penonton Pembangunan Kota Tasikmalaya

by -1417 Views
Anggota DPRD, Yadi Mulyadi saat reses didampingi ustadz Ghifar, Mudir Ponpes at-taufiq al islamy, Kamis (20/8)

Oleh: Yadi Mulyadi, SH (Anggota DPRD Kota Tasikmalaya, Fraksi PKS)

Kota Tasikmalaya saat ini berada di persimpangan jalan yang menarik. Disatu sisi, kita memiliki potensi sosial, ekonomi, dan keagamaan yang kuat; namun di sisi lain, tantangan perkotaan—mulai dari infrastruktur lingkungan, ketersediaan lapangan kerja, hingga kesejahteraan sosial—terus membayangi keseharian warga. 

Berdasarkan data kependudukan dari SIMANTAP WEB-GIS Disdukcapil Kota Tasikmalaya, jumlah penduduk Kota Tasikmalaya terus bergerak dinamis dan didominasi oleh usia produktif serta generasi muda. 

Dalam setiap kegiatan reses yang saya laksanakan, termasuk yang baru saja berlangsung bersama warga di Kelurahan Kahuripan, Kecamatan Tawang, saya semakin yakin akan satu hal: salah satu kunci penyelesaian tantangan-tantangan ini ada di tangan generasi muda.

Sayangnya, saya masih sering melihat anak muda kita diposisikan sebagai objek pembangunan, atau lebih buruk lagi, hanya sebagai penonton yang menyaksikan jalannya dinamika kota. 

Padahal, Generasi Z dan kaum muda Tasikmalaya hari ini, adalah entitas yang memiliki energi, kreativitas, dan literasi digital yang mumpuni. Mereka adalah aset strategis yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata dalam merumuskan arah masa depan daerah.

Dialog sebagai Jembatan Aspirasi

Reses bukan sekadar ritual administratif kedewanan. Ini adalah ruang silaturahmi untuk mendengarkan realitas di lapangan. 

Ketika saya berdialog dengan pemuda dari RW 10, 11, dan 13 di Kelurahan Kahuripan, aspirasi yang mereka sampaikan sangat konkret dan menyentuh denyut nadi kehidupan mereka. Mulai dari kebutuhan akan fasilitas pendukung kegiatan kepemudaan melalui Karang Taruna hingga perbaikan infrastruktur lingkungan seperti drainase yang mendesak.

Penting bagi kita di lembaga legislatif untuk memastikan aspirasi ini tidak berhenti di meja rapat. Melalui fungsi penganggaran (budgeting) dan pengawasan, saya berkomitmen untuk mengadvokasi agar kebutuhan nyata tersebut dapat terakomodasi. 

Namun, pembangunan infrastruktur fisik tidak akan bernilai maksimal jika tidak dibarengi dengan pembangunan sumber daya manusianya.

Ruang Inovasi: Dari NGOPI hingga Kolaborasi Nyata

Disinilah pentingnya menghadirkan ruang-ruang interaksi yang relevan dengan dunia anak muda. Saya sangat mengapresiasi inisiatif inovatif seperti program NGOPI (Ngobrol Perkara Iman) yang digagas oleh Ustadz Ghifar, yang juga menjabat sebagai Direktur Pondok Pesantren Modern At-Taufiq Al-Islamy. 

Pendekatan yang diprakarsai Ustadz Ghifar ini mengemas diskusi mendalam dan nilai-nilai keagamaan ke dalam format nongkrong santai ala anak muda. Program ini menjadi bukti nyata bahwa cara kita berkomunikasi dengan generasi muda harus adaptif, cair, dan dekat dengan keseharian mereka, bukan dengan pendekatan birokratis yang kaku.

Saya mendorong generasi muda Kota Tasikmalaya untuk aktif mengambil peran melalui berbagai ruang positif seperti ini. Jadilah pemuda yang tidak hanya menunggu instruksi, tetapi pemuda yang berani menawarkan gagasan solutif. Baik itu di bidang ekonomi kreatif, pelestarian lingkungan, maupun penguatan moralitas di tengah masyarakat, ruang partisipasi kini terbuka lebar.

Tanggung jawab membangun Kota Tasikmalaya adalah kerja kolaboratif. Pemerintah dan DPRD menyediakan regulasi serta fasilitasnya, namun jiwa dan penggerak utama perubahan di tiap lingkungan Rukun Warga (RW) adalah Anda, para pemuda. Mari kita jadikan Kota Tasikmalaya lebih produktif, berdaya saing, dan ramah bagi generasi masa depannya, karena di tangan andalah wajah kota ini ditentukan. (im)

banner 700x160

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.