Masalah Sampah: Amanah yang Tidak Bisa Ditunda

by -1569 Views
Foto ilustrasi: Elan Jaelani, anggota Komisi III DPRD Kota Tasikmalaya, saat meninjau TPA Ciangir, Tasikmalaya.

Produksi sampah di Kota Tasikmalaya saat ini mencapai lebih dari 300 ton per hari. Dari jumlah itu, sekitar 220 ton terangkut ke TPA Ciangir setiap harinya. Sisanya diselesaikan di lingkungan masing-masing. Dalam beberapa kasus belum tertangani secara optimal.

Angka ini bukan sekadar data diatas kertas. Ini adalah kenyataan yang setiap hari kita produksi bersama. Setiap rumah, setiap dapur, setiap aktivitas ekonomi—semuanya menyumbang. Pertanyaannya, apakah kesadaran kita sudah sebanding dengan volume sampah yang kita hasilkan?

Selama ini pengelolaan di TPA Ciangir masih menggunakan sistem open dumping. Artinya, sampah ditumpuk dan belum sepenuhnya diolah secara menyeluruh. Tentu kita berharap ke depan ada sistem pengolahan yang lebih modern dan ramah lingkungan. Karena kalau hanya ditumpuk, persoalan hanya dipindahkan, bukan diselesaikan.

Mengurangi dari Hulu: TPS 3R dan Bank Sampah

Kami di DPRD terus mendorong pembentukan TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle) minimal satu di setiap kecamatan. Saat ini baru ada sekitar tiga TPS 3R dan itu pun belum berjalan optimal. Salah satu kendalanya adalah keterbatasan SDM dan insentif bagi para pengelola.

Padahal kalau setiap kecamatan memiliki TPS 3R yang aktif dan dikelola dengan baik, volume sampah yang masuk ke TPA bisa ditekan secara signifikan. Bayangkan, jika dari 220 ton per hari bisa turun menjadi 150 ton saja, itu sudah sangat membantu memperpanjang usia TPA dan mengurangi tekanan lingkungan.

Selain TPS 3R, kami juga mendorong pembentukan bank sampah di setiap RW. Idealnya, bukan hanya memilah sampah anorganik seperti plastik dan kardus, tetapi juga mengelola sampah organik melalui kompos atau budidaya maggot.

Sampah dapur itu ada setiap hari. Sisa sayur, nasi, kulit buah—semua itu kalau tidak dikelola akan menumpuk. Tetapi kalau diolah menjadi kompos atau pakan maggot, justru bisa bernilai ekonomi. Kalau organik sudah tertangani di tingkat RW, beban kota akan jauh berkurang.

Masalah sampah ini bukan hanya soal teknis kebersihan. Ini soal tanggung jawab bersama. Jangan sampai kita nyaman di rumah masing-masing, tetapi membiarkan TPA menanggung beban yang terus membesar.

Air Lindi dan Pelajaran Berharga

Kita juga tidak boleh lupa persoalan air lindi. Beberapa waktu lalu, air lindi dari TPA Ciangir sempat mengalir ke selokan dan berdampak pada kolam warga. Warnanya hitam pekat seperti oli. Ikan-ikan mati. Warga tentu merasa dirugikan.

Alhamdulillah, saat ini sudah ada pembangunan instalasi pengolahan air lindi di TPA Ciangir. Ini langkah yang patut diapresiasi. Namun pengawasan tetap harus dilakukan. Kami dari komisi terkait terus memantau agar pengelolaan berjalan maksimal dan tidak lagi mencemari lingkungan sekitar, termasuk wilayah Ciangir dan Sinargalih.

Kejadian itu menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa sampah yang tidak dikelola dengan baik akan kembali kepada kita dalam bentuk masalah lingkungan.

Edukasi dan Perubahan Perilaku

Namun harus kita akui, persoalan sampah tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur. Perubahan perilaku adalah kunci.

Kami mendorong pelaku usaha, terutama kafe dan tempat makan, untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Kalau makan di tempat, sebaiknya menggunakan piring dan gelas permanen. Ini langkah kecil, tetapi dampaknya besar jika dilakukan bersama-sama.

Memang saat ini masih sebatas imbauan, belum aturan yang tegas. Tetapi biasanya ketika para pelaku usaha diperlihatkan langsung kondisi TPA yang menggunung, kesadaran mulai tumbuh. Karena pada akhirnya, sampah itu bukan milik pemerintah saja. Itu adalah hasil aktivitas kita semua.

Persoalan 300 ton sampah per hari adalah cermin dari gaya hidup kita. Kalau tidak ada perubahan, angka itu bisa terus bertambah. Tetapi kalau ada komitmen bersama—pemerintah, DPRD, pelaku usaha, dan masyarakat—insyaAllah bisa kita tekan.

Sampah bukan hanya soal kebersihan. Ia adalah soal amanah. Amanah menjaga lingkungan, menjaga kesehatan warga, dan menjaga masa depan anak cucu kita. Mudah-mudahan kita diberi kesadaran untuk tidak menunda tanggung jawab ini. Karena kalau bukan sekarang, kapan lagi? (im)

 

Penulis : Elan Jaelani

Anggota DPRD Kota Tasikmalaya – Fraksi PKS

banner 700x160

About Author: Tim Media

Avatar photo
Mengelola publikasi dan informasi kegiatan fraksi secara transparan, akurat, dan bertanggung jawab kepada masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.