Politik sebagai Seni

by -2428 Views
H. Yadi Mulyadi, SH berbincang dengan Viman Alfarizi Ramadhan, ST., MBA. saat peresmian masjid al Hamdi, Sabtu (28/2).

Oleh: H. Yadi Mulyadi, SH
Adakalanya politik kerap dipahami secara sederhana: hitam atau putih, kawan atau lawan, benar atau salah. Padahal, realitas politik jauh lebih kompleks dari sekadar dikotomi tersebut. 

Politik adalah ruang dinamis yang penuh dengan kemungkinan. Disinilah politik menemukan hakikatnya sebagai sebuah seni—seni membaca peluang, seni merajut komunikasi, dan seni mengelola perbedaan menuju tujuan yang lebih besar.

Para pakar politik menyebut bahwa politik adalah the art of the possible, seni dari segala kemungkinan. 

Bahkan, dalam praktiknya, politik juga kerap dipahami sebagai seni meraih kemenangan. Tentu kita bisa memberinya dalam pengertian yang luas, yakni kemenangan nilai, gagasan, dan kemaslahatan. 

Dalam konteks ini, pendekatan yang kaku dan serba hitam-putih justru dapat menutup ruang-ruang kebaikan yang seharusnya bisa dihadirkan.

Sebagai bagian dari dinamika tersebut, komunikasi dan silaturahmi lintas pihak menjadi sesuatu yang niscaya. 

Pertemuan, dialog, dan kesepahaman bukanlah hal yang perlu dipersempit maknanya. Justru, dari ruang-ruang itulah lahir peluang sinergi untuk membangun kehidupan politik yang lebih sehat dan konstruktif ke depan.

Bagi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), politik tidak hanya dipandang sebagai strategi kekuasaan, tetapi juga sebagai bagian dari dakwah. 

Disinilah seni dalam berpolitik mendapatkan bingkai yang jelas. PKS memahami bahwa keluwesan dalam bermanuver tetap harus berada dalam koridor nilai dan prinsip. 

Peran Dewan Syariah menjadi penting sebagai penjaga arah, yang memberikan batasan sekaligus ruang gerak.

Batasan itu bukan untuk mempersempit langkah, melainkan untuk memastikan bahwa setiap ikhtiar politik tetap berada dalam jalur yang benar. Dalam ruang yang telah digariskan tersebut, kreativitas dan strategi tetap bisa berkembang secara optimal. Dengan kata lain, ada kebebasan untuk bergerak, tetapi bukan tanpa batas.

Dalam praktiknya, politik juga tidak bisa disamakan dengan eksperimen di laboratorium. Jika di laboratorium dikenal istilah ceteris paribus—dimana variabel lain dianggap tetap—maka dalam politik, hal tersebut hampir mustahil. 

Realitas di lapangan dipengaruhi oleh begitu banyak faktor yang saling berinteraksi: sosial, budaya, ekonomi, hingga dinamika psikologis masyarakat.

Karena itu, membaca politik membutuhkan ketajaman analisis sekaligus kelapangan sikap. Tidak cukup hanya melihat satu variabel, tetapi harus memahami keseluruhan konteks. Disinilah seni itu kembali menemukan relevansinya.

Lebih dari itu, sebagai insan beriman, kita meyakini bahwa ikhtiar manusia tidak berdiri sendiri. Setiap langkah harus dibarengi dengan doa dan tawakal. Ikhtiar yang maksimal berjalan beriringan dengan keyakinan akan pertolongan Allah. Dalam bahasa yang lebih sederhana, usaha kita harus selalu membersamai doa kita.

Ke depan, ruang-ruang peluang akan terus terbuka. Selama berada dalam koridor nilai dan prinsip yang kita yakini, maka peluang tersebut layak untuk dijajaki dan dioptimalkan. Politik bukan tentang melampaui batas, tetapi tentang memainkan peran sebaik-baiknya dalam batas yang telah ditetapkan.

Pada akhirnya, politik sebagai seni mengajarkan kita untuk bijak dalam bersikap, cermat dalam membaca keadaan, dan teguh dalam memegang prinsip. Dengan cara itulah, politik dapat menjadi jalan untuk menghadirkan kebaikan yang lebih luas bagi masyarakat. (im)

H. Yadi Mulyadi, SH
Ketua Fraksi PKS Kota Tasikmalaya

banner 700x160

About Author: Tim Media

Avatar photo
Mengelola publikasi dan informasi kegiatan fraksi secara transparan, akurat, dan bertanggung jawab kepada masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.