Nilai Ekonomi Sampah

by -1367 Views
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Tasikmalaya, H. Yadi Mulyadi, SH saat memberikan sambutan pada pelatihan pengolahan sampah yang diselenggarakan Rumah Eco-Enzym berkolaborasi dengan P4S dan Jabar Bergerak Zillenials, Minggu (12/4).

Oleh: H. Yadi Mulyadi, SH
Pagi ini, Minggu (12/4), saya menghadiri pelatihan pengelolaan sampah yang diselenggarakan oleh Rumah Eco-Enzym pimpinan Deviani, berkolaborasi dengan P4S (Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya) pimpinan Marhaban. 

Kegiatan tersebut bukan hanya patut diapresiasi, tetapi juga menghadirkan optimisme baru bahwa persoalan sampah bisa diubah menjadi peluang.

Selama ini, sampah di Kota Tasikmalaya kerap dipandang sebagai masalah lingkungan dan estetika. Setiap hari, kota ini memproduksi sekitar 390 ton sampah. Angka yang besar, dan jika tidak dikelola dengan baik, akan terus menumpuk menjadi beban. 

Namun, dibalik itu semua, sesungguhnya tersimpan potensi ekonomi yang cukup besar—asal kita mampu mengubah cara pandang.

Mengubah Limbah Menjadi Sumber Daya

Kunci pertama dalam pengelolaan sampah adalah perubahan mindset. Sampah, khususnya sampah organik seperti sisa dapur, daun, dan limbah pasar, sejatinya bukan limbah, melainkan bahan baku yang tersedia secara gratis, melimpah, dan berkelanjutan. Jika diolah dengan tepat, ia dapat menjadi berbagai produk bernilai ekonomi.

Kita mengenal eco enzyme, cairan hasil fermentasi limbah organik yang bisa dimanfaatkan sebagai pembersih alami, pupuk cair, hingga pestisida ramah lingkungan. Modal pembuatannya relatif kecil, tetapi memiliki nilai jual yang cukup baik dan pasar yang terus tumbuh seiring meningkatnya kesadaran gaya hidup ramah lingkungan.

Selain itu, ada kompos sebagai pupuk padat yang menyuburkan tanah, serta media tanam yang merupakan hasil pengembangan lebih lanjut dari kompos dengan nilai jual lebih tinggi. 

Tidak berhenti di situ, sampah organik juga dapat diolah menjadi pakan ternak melalui proses fermentasi, bahkan dikembangkan menjadi maggot sebagai sumber protein alternatif untuk ikan dan unggas.

Dalam konteks pertanian, kita juga mengenal pupuk cair berbasis mikroorganisme, yang sering disebut sebagai EM4. 

Menariknya, dengan pemahaman yang tepat, masyarakat dapat memproduksi versi lokalnya sendiri dari hasil olahan sampah, sehingga lebih hemat biaya sekaligus membuka peluang usaha baru.

Dari Penghematan hingga Peluang Usaha

Nilai ekonomi sampah tidak hanya terletak pada produk yang dihasilkan, tetapi juga pada penghematan biaya dan peluang usaha yang tercipta. 

Dengan mengolah sampah sendiri, masyarakat dapat mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, menekan biaya pakan ternak, hingga mengurangi biaya pengangkutan sampah.

Lebih jauh, ini membuka ruang usaha baru, mulai dari produksi kompos, eco enzyme, media tanam, hingga jasa pengelolaan sampah dan pelatihan. 

Dalam skala komunitas, ini bisa berkembang menjadi gerakan ekonomi berbasis lingkungan seperti bank sampah atau koperasi hijau.

Dengan pendekatan yang tepat—mulai dari konsistensi bahan baku, proses yang benar, hingga edukasi pasar dan pengemasan produk—nilai ekonomi sampah dapat meningkat berlipat. Dari yang semula tidak bernilai, menjadi produk dengan nilai jual menengah hingga tinggi.

Kolaborasi untuk Kemandirian

Sebagai anggota legislatif, saya memandang bahwa pengelolaan sampah tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan: masyarakat, komunitas, legislatif, dan Pemerintah Kota Tasikmalaya.

Kita membutuhkan lebih banyak “Deviani-Deviani” dan “Marhaban-Marhaban” yang bergerak di tengah masyarakat, mengedukasi, dan memberi contoh nyata. 

Pemerintah dapat memperkuat melalui kebijakan dan fasilitasi, sementara legislatif mendorong regulasi serta penganggaran yang berpihak pada pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Pada akhirnya, sampah bukanlah beban, melainkan aset tersembunyi. Nilainya akan muncul ketika kita mampu mengolah, mengemas, dan mengedukasi. 

Dari situlah, sampah dapat bertransformasi menjadi sumber daya ekonomi yang mendorong kemandirian masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. (im)

H. Yadi Mulyadi, SH
Ketua Fraksi PKS DPRD Kota Tasikmalaya

banner 700x160

About Author: Tim Media

Avatar photo
Mengelola publikasi dan informasi kegiatan fraksi secara transparan, akurat, dan bertanggung jawab kepada masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.