Menambang “Emas Hijau” : Menyalakan Harapan dari Komunitas Muda

by -1188 Views
Anggota Fraksi PKS, H. Yadi Mulyadi, SH saat berdiskusi dengan Komunitas muda pecinta lingkungan di Rumah Eco-Enzym, Senin (20/4)

Oleh Yadi Mulyadi, SH

Diskusi sederhana yang berlangsung di Rumah Eco-Enzym pada Senin (20/4) menyisakan kesan yang tidak sederhana. Bersama komunitas muda yang penuh semangat, percakapan tentang lingkungan terasa hidup, jujur, dan sarat harapan. 

Ditengah berbagai keterbatasan, anak-anak muda ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bukan sekadar wacana, tetapi sudah menjadi gerakan nyata.

Kehadiran berbagai komunitas, termasuk Jabar Bergerak Zillenials, memperlihatkan bahwa isu lingkungan semakin mendapat tempat di hati generasi muda. Mereka datang dari latar belakang pendidikan berbeda, namun dipersatukan oleh kegelisahan yang sama: persoalan sampah yang belum tertangani secara optimal.

Dalam diskusi ini, saya sangat mengapresiasi atas konsistensi komunitas dalam menggerakkan aksi lingkungan. Ia menegaskan bahwa penyelesaian masalah lingkungan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Dibutuhkan kolaborasi yang kuat antara political will dan partisipasi aktif masyarakat.

Semangat kolaborasi ini terasa nyata. Diskusi tidak berhenti pada keluhan, tetapi bergerak menuju solusi. Disinilah peran komunitas menjadi penting: menjembatani kesadaran, menggerakkan aksi, sekaligus menjadi motor perubahan di tingkat akar rumput.

Melampaui Gaya Hidup: Mengubah Cara Pandang

Selama ini, kampanye lingkungan sering berhenti pada ajakan menjalani gaya hidup hijau seperti 3R (reduce, reuse, recycle). Tentu ini penting, namun belum cukup. Diskusi bersama komunitas muda ini mengingatkan bahwa tantangan terbesar justru terletak pada cara pandang.

Sampah masih sering dilihat sebagai beban. Sesuatu yang harus dibuang, dijauhkan, bahkan dihindari. Padahal, jika ditelaah lebih dalam, cara pandang ini sudah lama dikoreksi dalam berbagai pendekatan modern seperti ekonomi sirkular, waste to resource, hingga ekologi industri, yang menempatkan limbah sebagai bagian dari siklus produksi dan sumber nilai baru. Bahkan dalam perspektif urban mining, kota dipandang sebagai “tambang” material dari apa yang selama ini disebut sampah.

Di titik inilah, gagasan “emas hijau” menemukan relevansinya. Meski bukan istilah baku akademik, ia menjadi metafora kuat untuk menjelaskan bahwa sampah sejatinya adalah sumber daya yang belum dimanfaatkan (resource in disguise). 

Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, pupuk cair, hingga energi, sementara sampah anorganik dapat didaur ulang menjadi produk baru yang bernilai ekonomi.

Lebih jauh, pendekatan ini membuka peluang ekonomi baru. Pengelolaan sampah tidak lagi hanya berbicara tentang kebersihan, tetapi juga tentang pemberdayaan dan kemandirian ekonomi masyarakat. Di titik ini pula, konsep kapitalisasi sampah menjadi relevan dan strategis untuk dikembangkan.

Edukasi sebagai Kunci, Kolaborasi sebagai Jalan

Meski potensi besar telah terlihat, tantangan utama tetap berada pada aspek edukasi. Ketua Rumah Eco-Enzym, Deviani, menyampaikan bahwa kesadaran masyarakat tentang pengelolaan sampah masih perlu ditingkatkan. Banyak yang belum memahami bahwa sampah bisa diolah dan dimanfaatkan.

Edukasi lingkungan, karenanya, tidak bisa bersifat sesaat. Ia harus menjadi gerakan berkelanjutan, menyentuh berbagai lapisan masyarakat, dan dilakukan dengan pendekatan yang kreatif serta membumi. 

Disinilah peran komunitas muda menjadi sangat strategis. Dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan komunikatif, mereka mampu menjangkau kelompok masyarakat yang lebih luas.

Namun, komunitas tidak bisa berjalan sendiri. Dukungan dari pemerintah dan legislatif menjadi penting untuk memperkuat gerakan ini, baik melalui regulasi, fasilitas, maupun program yang berkelanjutan. Sinergi antara komunitas, pemerintah, dan masyarakat adalah kunci untuk mewujudkan perubahan yang nyata.

Diskusi di Rumah Eco-Enzym ini menjadi pengingat bahwa harapan itu masih ada. Ia tumbuh dari ruang-ruang kecil, dari percakapan sederhana, dan dari anak-anak muda yang memilih untuk peduli. 

Jika semangat ini terus dirawat dan diperkuat, bukan tidak mungkin Kota Tasikmalaya akan menjadi contoh bagaimana persoalan sampah dapat diubah menjadi peluang, dari beban menjadi berkah—dari sampah menjadi “emas hijau”. (im)

Yadi Mulyadi, SH – Anggota Fraksi PKS DPRD Kota Tasikmalaya.

banner 700x160

About Author: Tim Media

Avatar photo
Mengelola publikasi dan informasi kegiatan fraksi secara transparan, akurat, dan bertanggung jawab kepada masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.