Ketahanan Keluarga Dimulai dari Pekarangan Rumah

by -1511 Views
Elan Jaelani menyerahkan bibit cabai di acara launching Sekolah Keluarga Kec Cibeureum, Minggu, 16/8.

Oleh: Elan Jaelani, SH., Anggota DPRD Kota Tasikmalaya dari Fraksi PKS

Ketahanan keluarga hari ini tidak cukup hanya dibangun melalui keharmonisan rumah tangga. Keluarga juga membutuhkan ketahanan ekonomi dan pangan. Ketika kebutuhan hidup terus berkembang, keluarga harus memiliki kemampuan untuk beradaptasi, mengelola sumber daya yang ada, dan memenuhi sebagian kebutuhannya secara mandiri.

Pemikiran itu menjadi salah satu alasan saya menyambut baik kehadiran Sekolah Keluarga Indonesia (SKI) di Kecamatan Cibeureum. Dalam peluncurannya di Bantargedang, Kelurahan Kersanagara, beberapa waktu lalu, SKI tidak hanya berbicara tentang pendidikan keluarga, tetapi juga mulai menyentuh kebutuhan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: bagaimana keluarga bisa lebih mandiri.

Pemberdayaan Harus Menyentuh Kehidupan Nyata

Sebagai orang yang cukup lama terlibat dalam kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat, saya melihat bahwa program pemberdayaan akan lebih berarti ketika masyarakat mendapatkan pengetahuan sekaligus kesempatan untuk langsung mempraktekkannya.

SKI memiliki ruang yang cukup luas untuk itu. Pendidikan pranikah, pembinaan keluarga, pembinaan ruhiyah, tahsin Al-Qur’an, tilawah, dan kajian Islam penting untuk membangun keluarga dari sisi nilai. Namun, keluarga juga perlu diperkuat dari sisi ekonomi.

Karena itu, saya mengapresiasi pilihan SKI Cibeureum mengangkat tema “Gerakan Tanam Cabai di Pekarangan Sempit: Dapur Sehat, Kantong Aman.”

Temanya sederhana, tetapi sangat dekat dengan kebutuhan masyarakat. Tidak semua keluarga memiliki lahan luas. Bahkan di kawasan perkotaan, sebagian rumah hanya memiliki halaman kecil. Tetapi keterbatasan lahan tidak seharusnya menjadi alasan untuk tidak produktif.

Puluhan polibag bibit cabai dan tomat yang dibagikan dalam kegiatan tersebut merupakan contoh kecil. Hal yang lebih penting adalah pengetahuan dan kebiasaan yang dibangun setelahnya.

Urban Farming: Mengubah Lahan Sempit Menjadi Produktif

Kita perlu mulai melihat konsep urban farming sebagai bagian dari strategi ketahanan keluarga. Lahan kosong, pekarangan, halaman rumah, bahkan ruang vertikal dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan pangan.

Untuk rumah dengan lahan sangat terbatas, kita bisa menggunakan polibag, rak tanaman, hidroponik, atau konsep vertical farming. Tidak harus mahal dan tidak harus langsung besar. Tetapi, sesuai dengan kemampuan keluarga dan dilakukan secara konsisten.

Cabai, tomat, sayuran, dan tanaman pangan sederhana lainnya dapat menjadi pilihan. Memang, hasilnya mungkin tidak langsung mengubah kondisi ekonomi keluarga secara drastis. Tetapi ketahanan ekonomi seringkali memang dibangun dari banyak penghematan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Ketika keluarga dapat memenuhi sebagian kebutuhan dapurnya sendiri, ketergantungan terhadap pembelian dari luar sedikit berkurang. Pada saat harga komoditas tertentu mengalami kenaikan, keluarga juga memiliki alternatif sumber pangan.

Dari Pekarangan Menuju Gerakan Masyarakat

Saya melihat SKI memiliki peluang untuk mengembangkan gerakan ini lebih jauh. Bukan hanya menanam, tetapi juga membangun ekosistem pemberdayaan.

RT dan RW dapat menjadi ruang pengorganisasian. Kelompok ibu-ibu dapat menjadi penggerak. Lahan kosong yang belum dimanfaatkan dapat dipetakan. Hasil produksi dapat dikonsumsi sendiri atau, jika sudah berkembang, dipasarkan secara sederhana.

Inilah yang saya maksud dengan pemberdayaan masyarakat: bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi membangun kemampuan agar masyarakat dapat bergerak dengan kekuatannya sendiri.

Jika gerakan seperti ini tumbuh di banyak rumah dan banyak lingkungan, dampaknya tentu akan lebih besar. Kita tidak sedang menyelesaikan seluruh persoalan ekonomi keluarga hanya dengan menanam cabai. Tetapi kita sedang membangun budaya mandiri, produktif, dan gotong royong.

Menurut saya, ketahanan keluarga memang harus dimulai dari rumah. Dan salah satu langkah paling sederhana untuk memulainya bisa jadi adalah dengan memanfaatkan pekarangan yang selama ini kita biarkan kosong.

SKI Cibeureum telah memulai langkah itu. Tinggal bagaimana gerakan kecil tersebut dirawat, dikembangkan, dan direplikasi menjadi gerakan pemberdayaan keluarga di berbagai wilayah Kota Tasikmalaya. (im)

banner 700x160

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.