Oleh: H. Heri Ahmadi, S.Pd.I.
Wakil Ketua I DPRD Kota Tasikmalaya dari Fraksi PKS
Jumat pagi, 4 September 2026, menjadi momentum yang menurut saya patut mendapat perhatian dalam perjalanan pembangunan Kota Tasikmalaya. Di Halaman Masjid Agung Kota Tasikmalaya digelar wisuda angkatan pertama program One Kelurahan One Hafidz (OHAN Hafidz), sebuah ikhtiar untuk menghadirkan setidaknya satu hafidz Al-Qur’an di setiap kelurahan.
Saya hadir mewakili DPRD Kota Tasikmalaya. Kehadiran tersebut bukan sekadar memenuhi undangan, tetapi juga merupakan bentuk dukungan terhadap sebuah program yang menurut saya memiliki dimensi penting dalam pembangunan manusia.
Dari 69 kelurahan yang ada, saat ini hafidz telah hadir di 44 kelurahan. Dari jumlah tersebut, 26 orang telah menyelesaikan hafalan 30 juz, sementara yang lainnya masih berproses dengan capaian hafalan yang beragam. Target akhirnya tentu sederhana, tetapi memiliki makna besar: setiap kelurahan memiliki setidaknya satu hafidz.
OHAN dan Pentingnya Membangun Ruhiyah
Pelantikan atau wisuda angkatan pertama ini hendaknya tidak kita lihat hanya sebagai seremonial pencapaian hafalan. Lebih dari itu, momentum ini dapat menjadi pengingat bahwa pembangunan sebuah kota tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur dan memperbaiki pelayanan publik.
Kita juga harus membangun manusia yang mengelola kota dan kehidupan masyarakatnya.
Berbagai persoalan sosial yang kita lihat hari ini, termasuk kenakalan remaja, gang motor, kekerasan, dan perilaku menyimpang, tentu memiliki banyak faktor. Karena itu, penyelesaiannya pun membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Penegakan aturan tetap diperlukan, tetapi pembinaan karakter dan penguatan spiritual tidak boleh diabaikan.
Hal yang sama berlaku dalam pemerintahan. Seorang pejabat atau aparatur tidak cukup hanya memiliki kemampuan teknis. Ia juga membutuhkan integritas, kejujuran, rasa takut kepada Allah, dan kesadaran bahwa jabatan merupakan amanah.
Di sinilah saya melihat pentingnya program seperti OHAN Hafidz. Al-Qur’an bukan hanya untuk dihafalkan, tetapi juga menjadi sumber nilai yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan.
Dari Hafalan Menuju Pemahaman dan Pengamalan
Karena itu, setelah momentum wisuda angkatan pertama ini, pekerjaan kita belum selesai. Justru ada tahap yang lebih penting: bagaimana hafalan tersebut berkembang menjadi pemahaman dan pengamalan.
Kita berharap para hafidz yang lahir melalui program ini tidak hanya menjadi simbol keberhasilan sebuah program, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem kebaikan di lingkungannya.
Satu hafidz di satu kelurahan dapat menjadi titik awal tumbuhnya berbagai aktivitas Al-Qur’an. Anak-anak terdorong untuk belajar mengaji, keluarga semakin dekat dengan Al-Qur’an, dan masyarakat memiliki figur yang dapat menginspirasi dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan OHAN Hafidz ke depan tidak hanya berapa kelurahan yang telah memiliki hafidz, tetapi juga sejauh mana nilai-nilai Al-Qur’an hidup di tengah masyarakat.
Membangun Kota yang Kuat Lahir dan Batin
Saya berharap momentum wisuda angkatan pertama OHAN Hafidz menjadi awal dari gerakan yang lebih luas. Pemerintah, DPRD, tokoh agama, keluarga, sekolah, dan masyarakat perlu mengambil bagian dalam membangun lingkungan yang semakin dekat dengan Al-Qur’an.
Kita membutuhkan kota yang maju secara fisik, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual.
Sebab pembangunan pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang kita bangun, melainkan tentang manusia seperti apa yang ingin kita lahirkan. Kota yang baik membutuhkan manusia yang baik. Dan manusia yang baik membutuhkan ilmu, akhlak, iman, serta kedekatan dengan petunjuk Allah.
Karena itu, dari momentum wisuda angkatan pertama OHAN Hafidz ini, mari kita melihat Al-Qur’an bukan hanya sebagai sesuatu yang dihafalkan, tetapi sebagai nilai yang dihidupkan. Dari satu hafidz di setiap kelurahan, semoga tumbuh masyarakat yang semakin dekat dengan Al-Qur’an, semakin kuat ruhiyahnya, dan semakin baik kontribusinya bagi Kota Tasikmalaya. (im)








