Oleh: Heri Ahmadi, S.Pd.I., Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya dari Fraksi PKS
Kunjungan Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Oktavianus, Sp.P., FISR., bersama Wakil Menteri Dalam Negeri RI Akhmad Wiyagus ke Kota Tasikmalaya pada Selasa (22/9/2026) menjadi momentum penting untuk melihat kembali persoalan kesehatan masyarakat, khususnya tuberkulosis (TB).
TB tidak semata-mata persoalan kesehatan. Ia berkaitan erat dengan kualitas sumber daya manusia, kondisi lingkungan, pola hidup, kemampuan deteksi dini, hingga kualitas pelayanan kesehatan yang diterima masyarakat.
Jangan Biarkan TB Menjadi Beban Generasi
Data kesehatan Kota Tasikmalaya menunjukkan bahwa TB masih menjadi pekerjaan rumah yang serius. Pada 2024, tercatat ribuan kasus TB ditemukan di Kota Tasikmalaya. Tantangannya bukan hanya menemukan penderita, tetapi memastikan mereka mendapatkan pengobatan sampai tuntas serta mencegah penularan kepada anggota keluarga dan lingkungan sekitar.
Ini penting karena kita sedang berbicara tentang pembangunan manusia. Kita ingin menyiapkan generasi yang sehat, produktif, dan mampu berkompetisi menyongsong Indonesia Emas. Karena itu, persoalan penyakit menular yang sebenarnya dapat dideteksi dan diobati harus ditangani secara serius dan sistematis.
Kita juga perlu melihat TB secara lebih luas. Pencegahan tidak cukup hanya dilakukan di fasilitas kesehatan. Kualitas lingkungan tempat tinggal, sanitasi, gizi, ventilasi rumah, perilaku hidup bersih dan sehat, serta kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri semuanya memiliki keterkaitan dengan upaya pengendalian TB.
Deteksi Dini Harus Mendekati Masyarakat
Saya mengapresiasi komitmen pemerintah pusat untuk memperkuat deteksi dini TB, termasuk dukungan sarana pemeriksaan seperti rontgen di fasilitas pelayanan kesehatan.
Semakin dekat fasilitas pemeriksaan dengan masyarakat, semakin besar peluang kasus ditemukan lebih awal. Pemeriksaan juga perlu dilakukan secara terarah, terutama terhadap kelompok yang memiliki risiko dan kontak erat dengan pasien TB.
Pendekatan ini penting agar kita tidak menunggu masyarakat datang ke rumah sakit ketika kondisi sudah berat. Puskesmas harus diperkuat sebagai garda terdepan untuk promosi kesehatan, pencegahan, skrining, deteksi dini, dan pendampingan pengobatan.
Saya membayangkan penanganan TB di Kota Tasikmalaya dilakukan secara lebih sistematis, berbasis data, dan melibatkan seluruh unsur. Pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, lingkungan masyarakat, hingga institusi pendidikan perlu memiliki peran yang jelas.
Puskesmas Kuat, Rumah Sakit Juga Harus Diperkuat
Di sisi lain, komitmen pemerintah pusat terhadap penguatan RSUD dr. Soekardjo juga perlu dikawal bersama. Rumah sakit rujukan harus memiliki kapasitas yang memadai untuk menangani pasien yang membutuhkan pelayanan lanjutan.
Penguatan rumah sakit tidak boleh berjalan sendiri. Kita membutuhkan sistem kesehatan yang utuh: puskesmas kuat di tingkat pertama, sistem rujukan yang baik, rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan berkualitas, serta masyarakat yang semakin sadar pentingnya pencegahan.
TB memberi kita pelajaran bahwa pembangunan kesehatan tidak cukup diukur dari berapa banyak fasilitas yang dibangun. Ukuran yang lebih penting adalah apakah masyarakat semakin mudah mendapatkan pelayanan, semakin cepat memperoleh diagnosis, mendapatkan pengobatan yang tuntas, dan hidup dalam lingkungan yang sehat.
Jika kita serius membangun sumber daya manusia Kota Tasikmalaya, maka investasi terbesar bukan hanya pada pendidikan, tetapi juga pada kesehatan. Masyarakat yang sehat adalah fondasi bagi manusia yang produktif, keluarga yang kuat, dan kota yang memiliki masa depan. (im)








