Perikanan, Lahan Produktif dan Prospek Pertanian

by -1376 Views
Heri Ahmadi, SPdI di Acara Pelatihan Budidaya Ikan Nila, Rabu (14/10)

Oleh: Heri Ahmadi, S.Pd.I.
Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya | Fraksi PKS

Pelatihan pembenihan dan budidaya ikan nila di Santripreneur Madani, Jalan Cimuncang, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, Rabu (14/10), memberikan pelajaran penting. Peluang ekonomi dapat dimulai dari inisiatif komunitas dan penguatan keterampilan masyarakat. 

Kegiatan yang bekerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan ini diikuti sekitar 48 peserta yang dibagi menjadi tiga kelompok.

Penyelenggaraan kegiatan tersebut patut diapresiasi. Pelatihan semacam ini bukan sekadar agenda peningkatan keterampilan, tetapi juga membuka kesempatan untuk mengembangkan potensi lokal menjadi kegiatan usaha yang produktif. 

Terlebih, sektor perikanan memiliki peluang yang dapat dijajaki masyarakat, termasuk melalui pemanfaatan lahan yang selama ini belum optimal.

Kita sering berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan. Namun, semua itu membutuhkan langkah nyata agar masyarakat memiliki kemampuan untuk menghasilkan nilai ekonomi dari sumber daya yang tersedia di sekitarnya. Pelatihan yang disertai pendampingan dan akses pasar dapat menjadi salah satu jalan untuk mewujudkannya.

Visi Kota Industri Tidak Menutup Peluang Perikanan

Kota Tasikmalaya memiliki visi pembangunan sebagai kota industri, jasa, dan perdagangan yang religius, inovatif, maju, dan berkelanjutan. Visi tersebut merupakan arah pembangunan yang perlu kita dukung bersama. Visi ini, bukan berarti sektor pertanian dan perikanan kehilangan tempat dalam perekonomian kota.

Justru sebaliknya, dokumen RPJMD Kota Tasikmalaya 2025–2029 menegaskan bahwa pembangunan ekonomi perlu didukung oleh sektor ketahanan pangan dan pertanian. Artinya, penguatan sektor-sektor produktif lokal tetap relevan dalam pembangunan kota.

Data dalam RPJMD menunjukkan bahwa produksi perikanan budidaya Kota Tasikmalaya pada 2024 mencapai 9.989,73 ton. Dari jumlah tersebut, 9.341,98 ton berasal dari budidaya kolam dan 647,75 ton dari budidaya di sawah. Kegiatan ini melibatkan 12.234 rumah tangga pembudidaya.

Dari angka-aAngka tersebu,t memperlihatkan bahwa sektor perikanan sudah menjadi bagian nyata dari aktivitas ekonomi masyarakat. Bukan sekadar peluang yang masih berada diatas kertas.

Potensi ini perlu dikembangkan dengan pendekatan yang lebih terarah. Industri, jasa, dan perdagangan dapat menjadi penguat bagi pertanian dan perikanan melalui penyediaan sarana produksi, pengolahan hasil, distribusi, pemasaran, serta akses pembiayaan. 

Dengan demikian, sektor-sektor ekonomi tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling membangun rantai nilai yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Lahan Tidur, Tantangan Usaha, dan Peran Kolaborasi

Salah satu peluang yang perlu kita dorong adalah mengubah lahan yang belum produktif menjadi sumber penghasilan. Lahan yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk budidaya ikan nila atau kegiatan pertanian lainnya sesuai kondisi lahan, ketersediaan air, tata ruang, dan kemampuan pengelolanya.

Tentu, usaha perikanan bukan tanpa tantangan. Pembudidaya harus memperhitungkan biaya benih dan pakan, kualitas air, risiko penyakit, biaya operasional, serta kepastian harga jual. 

Keterampilan teknis perlu disertai kemampuan mengelola usaha. Peserta pelatihan perlu memahami cara menghitung biaya produksi, menentukan skala usaha, mencari pembeli, dan mengelola risiko agar kegiatan budidaya tidak berhenti setelah pelatihan selesai.

Pemerintah, komunitas, lembaga pendidikan, dan pelaku usaha perlu membangun kolaborasi yang berkelanjutan. Dukungan tidak cukup berhenti pada penyelenggaraan pelatihan, tetapi perlu dilanjutkan dengan pendampingan, akses permodalan yang sesuai, penguatan kelompok pembudidaya, serta hubungan dengan pasar.

Pelatihan budidaya ikan Nila ini, bisa menjadi salah satu contoh bagaimana keterampilan masyarakat dikembangkan menjadi usaha produktif. Visi Kota Tasikmalaya sebagai kota industri, jasa, dan perdagangan seharusnya menjadi peluang untuk memperkuat berbagai sektor ekonomi, termasuk perikanan.

Kemajuan kota tidak hanya diukur dari tumbuhnya pusat perdagangan atau kegiatan industri, tetapi juga dari kemampuan masyarakat memanfaatkan potensi lokal untuk menciptakan penghasilan dan lapangan kerja. Ketika lahan yang sebelumnya belum produktif mulai menghasilkan, keterampilan berkembang menjadi usaha, dan usaha terhubung dengan pasar, pembangunan ekonomi akan terasa lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. (im)

banner 700x160

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.