Hari Kebangkitan Nasional dan Ujian Besar Indonesia Emas 2045

by -1331 Views
H. Heri Ahmadi, SPdI, wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya.

Momentum peringatan ini harus menjadi ruang refleksi untuk melihat sejauh mana bangsa Indonesia berjalan menuju cita-cita keadilan, kesejahteraan, dan kemajuan sebagaimana diamanatkan para pendiri bangsa.

Tasikmalaya, FPKS – Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Kita mengenang lahirnya kesadaran kolektif bangsa untuk bangkit, bersatu, dan memperjuangkan masa depan bersama. 

Namun pertanyaan pentingnya adalah: apakah semangat kebangkitan itu masih hidup dalam kehidupan berbangsa hari ini?

Bagi saya, peringatan Hari Kebangkitan Nasional harus menjadi bahan evaluasi dan introspeksi. Jangan sampai hanya menjadi seremoni yang berulang setiap tahun tanpa makna mendalam bagi perjalanan bangsa.

Pergantian Generasi dan Tantangan Indonesia Emas

Dalam kajian sosial dan sejarah, sering disebut bahwa pergantian generasi besar dalam sebuah bangsa berlangsung sekitar 100 tahun sekali. Artinya, satu abad menjadi titik penting perubahan pola pikir, kepemimpinan, budaya, bahkan arah sebuah negara.

Indonesia merdeka pada tahun 1945. Maka tahun 2045 akan menjadi momentum 100 tahun Indonesia berdiri sebagai bangsa merdeka. 

Karena itu, gagasan “Indonesia Emas 2045” sesungguhnya bukan sekadar slogan pembangunan, melainkan pertaruhan sejarah: apakah bangsa ini benar-benar berhasil menjadi bangsa maju atau justru tertinggal di tengah perubahan dunia.

Di titik itulah generasi hari ini sedang diuji. Apakah kita sedang mempersiapkan generasi yang kuat secara ilmu, karakter, dan moral? Atau justru membiarkan berbagai persoalan mendasar terus berulang tanpa solusi serius?

Pendidikan menjadi salah satu kunci utama. Sebab sulit membayangkan Indonesia Emas terwujud jika kualitas pendidikan masih timpang, angka putus sekolah masih tinggi, dan akses pendidikan berkualitas belum merata.

Ideologi Bangsa Akan Diuji Oleh Zaman

Ada satu hal menarik dalam perjalanan bangsa-bangsa di dunia. Banyak pengamat menyebut ideologi sebuah bangsa biasanya mulai diuji setelah melewati usia sekitar 70 tahun. Ada bangsa yang ideologinya bertahan, tetapi tidak sedikit yang perlahan kehilangan arah, bahkan runtuh karena gagal menjaga nilai dasarnya.

Indonesia hari ini juga sedang menghadapi ujian tersebut. Apakah nilai-nilai kebangsaan kita tetap hidup atau mulai melemah karena kepentingan sesaat, ketimpangan sosial, dan krisis keteladanan?

Sebuah ideologi hanya akan bertahan jika memiliki nilai universal yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dalam konteks Indonesia, nilai itu adalah keadilan, kesejahteraan, dan kesetaraan.

Jika rakyat merasakan keadilan hukum, kesejahteraan ekonomi, dan kesempatan yang setara dalam pendidikan maupun kehidupan sosial, maka kepercayaan terhadap bangsa akan tetap kuat. Sebaliknya, jika ketimpangan terus melebar, maka semangat kebangsaan bisa perlahan terkikis.

Kebangkitan Nasional Harus Dimulai dari Manusia

Karena itu, Hari Kebangkitan Nasional seharusnya mengingatkan kita bahwa membangun bangsa bukan hanya soal infrastruktur atau pertumbuhan ekonomi. Kebangkitan sejati dimulai dari pembangunan manusianya.

Pendidikan harus terjangkau. Pelayanan kesehatan harus mudah diakses. Kemiskinan harus ditekan. Generasi muda harus dipersiapkan menghadapi era digital tanpa kehilangan karakter dan akhlak.

Sebagai bangsa yang besar, Indonesia memiliki modal sosial, budaya, dan spiritual yang kuat. Tinggal bagaimana seluruh elemen bangsa mampu menjaga arah perjuangan itu agar tetap sesuai dengan cita-cita pendiri bangsa.Kebangkitan nasional tidak boleh berhenti sebagai kenangan sejarah. Ia harus hidup dalam keberanian untuk memperbaiki keadaan, menghadirkan keadilan, dan memastikan kesejahteraan dirasakan seluruh rakyat Indonesia. (im)

banner 700x160

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.